Kisah Si Joko dan Startup yang Layu Sebelum Berkembang


Yohyednos Nako

Sebuah cerita dari dunia nyata…

Spoiler Alert:
Sekali lagi perlu saya ingatkan kepada pembaca yang budiman, seluruh tulisan saya ditujukan untuk para pemula di bidang startup. Tulisan ini saya buat sesederhana mungkin agar mudah dipahami.

Untuk yang ahli atau sudah merasa ahli dalam bidang startup, sepertinya tulisan ini bukan untuk kamu.

Baiklah, mari kita mulai kisah ini.

Joko, seorang fresh graduate jurusan bisnis datang ke sebuah konferensi startup. Ia melihat betapa keren, bahagia, dan antusiasnya para founder startup yang sedang pasang booth dan pameran di sana.

Di satu sesi talkshow, dia mendengar seorang founder papan atas Indonesia berkata:

“I believe everyone can build their own startup, you just have to start.”

Sepanjang perjalanan pulang naik GO-JEK, Joko membulatkan tekad untuk membuat startup sendiri. Ketika sampai di rumah, Joko baru tersadar bahwa dia tidak punya ide startup dan tidak bisa coding.

Untuk memecahkan masalah ini, dia mencari ide startup yang menarik di Google, tiba di crunchbase.com (untuk yang mau cari ide startup, web ini boleh dikunjungi), menjelajahi perusahaan startup yang ada di seluruh dunia, dan berujung di satu ide startup yang menarik.

Lalu momen eureka dengan tagline “INI BELUM ADA DI INDONESIA NIH!” pun terjadi.

Dia melanjutkan pencariannya untuk mengetahui potensi pasar Indonesia berupa “Data Pengguna Smartphone di Indonesia”, “Data Pengguna Internet di Indonesia,” dan data umum lainnya untuk membuat presentasi bisnis yang menarik.

Setelah presentasinya selesai, dia tahu bahwa dia tinggal menemukan seorang programmer yang bisa mengeksekusi ide brilian dan “belum ada di Indonesia” miliknya.

Dia lalu blast ke di seluruh grup WhatsApp dan Line:

“Gaes, ada yang punya kenalan programmer bagus enggak?”

Seorang teman membalas pesan Joko, lalu memberikan kontak Bambang, fresh graduate jurusan Informatika, yang dia tahu sangat ahli di bidangnya.

Joko lalu bertemu dengan Bambang di sebuah coffee shop.

Perkenalkan, ini Bambang.

Dia adalah programmer yang sedang galau antara bekerja di perusahaan dengan gaji tinggi atau membangun startup.

Joko mempresentasikan idenya dengan sangat meyakinkan, menunjukkan potensi pasar yang luar biasa berdasarkan data pengguna smartphone di Indonesia, betapa saat ini belum ada yang membuat aplikasi ini, dan lain-lain.

Bambang, yang delapan puluh persen hidupnya dihabiskan di depan layar komputer langsung tertarik dengan ide Joko. Dia merasa bahwa Joko adalah seseorang yang memiliki visi yang luar biasa.

Akhirnya mereka sepakat untuk bekerja sama, mewujudkan rencana bisnis Joko menjadi sebuah kenyataan.

“Oke bro, kita setup meeting lagi minggu depan ya. Kita bicarain detail produknya.”

Mereka berdua pulang ke rumah dengan penuh antusias. Mereka merasa ini adalah momen mereka untuk bersinar dan membuat seluruh orang di sekitar mereka terkagum-kagum.

Joko setiap hari sharing video tentang kisah sukses milik Mark Zuckerberg, Elon Musk, Reid Hoffman, dan Larry Page, melalui WhatsApp kepada Bambang.

“Ini waktunya kita bro!”

Itu adalah pesan yang sering dikirimkan oleh Joko.

Satu minggu berlalu, mereka berjumpa lagi. Diawali dengan senyum lebar dan basic bro handshake. Meeting pun dimulai.

Mereka ngobrol soal detail produk. Dan di sinilah kekacauan itu bermula….

Joko, yang merasa bahwa dia adalah sang pemilik ide, bersikeras bahwa harus ada fitur A, B, C, D, dan E dalam produk yang akan dibuat. Dia ingin membangun sebuah startup yang memiliki integrated service, all in one, one-stop for all  (familier?)

Sementara Bambang, yang memiliki pengalaman membangun beberapa proyek untuk perusahaan selama berkuliah, tahu bahwa untuk membangun fitur A secara optimal saja butuh waktu yang lama.

Mereka bertemu berulang kali untuk membicarakannya. Joko, sang komunikator andal, mendominasi pembicaraan. Ia tidak mendengarkan alasan yang diberikan oleh Bambang.

Bambang, yang lebih mahir berkomunikasi dengan bahasa pemrograman dibanding Bahasa Indonesia, akhirnya kalah berdebat dan merasa terpaksa untuk memenuhi keinginan Joko.

Bambang membangun fitur A,B,C,D, dan E dengan seadanya. Ia merasa bahwa Joko tidak mengerti apa-apa tentang rumitnya dunia pemrograman. Alih-alih sebagai partner, Bambang merasa diperlakukan seperti karyawan oleh Joko.

Joko, sambil menunggu produk jadi, terus bergelut dengan Google Search, Youtube Video, dan media startup untuk mencari hal-hal positif tentang produk yang sedang dia bangun. Joko rutin mendatangi acara-acara startup untuk membangun relasi dengan sesama founder startup dan investor.

Setiap ada founder startup  atau investor papan atas yang sedang mengisi sesi di sebuah acara, dia akan senantiasa menunggu sampai sesi selesai, dan menghampiri sang founder dan investor tersebut untuk memperkenalkan diri dan menceritakan tentang startup sedang yang dia bangun.

Si founder startup dan investor papan atas yang diwajibkan oleh konsultan Public Relation mereka untuk terlihat baik dan ramah di setiap public event, karena mereka mewakili brand perusahaan.

Founder dan investor mendengarkan Joko berbicara selama tiga menit, lalu memberikan respons template yang mereka pakai setiap ada founder startup yang bercerita tentang ide mereka:

 “Wah bagus sekali idenya! Terus semangat ya.”

Setiap kali pulang dari acara, Joko selalu merasa puas karena semua orang berpikir ide dia bagus sekali. Joko semakin menekan Bambang untuk membuat fitur yang dia inginkan.

Bambang, sebaliknya, selalu datang ke Joko dengan keluhan bahwa fitur yang akan dibangun sebenarnya tidak terlalu krusial untuk pengguna. Joko terus membantah setiap argumentasi Bambang.

Logika Joko berkata, “Mas Yunus saja yang startup miliknya sudah unicorn bilang ide gue bagus. Tahu apa si Bambang bau kencur ini?”

Akhirnya tibalah waktu peluncuran produk.

Joko, yang amat antusias, mengumumkan peluncuran produknya di setiap media sosial dan grup chat miliknya.

Bambang yang merasa ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, langsung pulang ke kosan, dan tidur sepanjang hari setelah kelelahan melakukan coding nonstop selama tiga bulan proses pembuatan produk.

Setelah launching, tak seorang pun peduli. Iya, kamu enggak salah baca, kok. Tak seorang pun peduli. 

Tidak ada yang mengunduh aplikasi buatan mereka, kecuali keluarga Joko dan Bambang. Itupun hanya mengunduh dan tidak digunakan.

Joko yang masih percaya diri terus memasarkan produknya dengan mendatangi acara-acara startup, lalu meminta semua orang yang dia ajak ngobrol untuk mengunduh dan memakai aplikasinya.

Semua orang melakukan hal tersebut dan ini memberikan kepercayaan diri kembali kepada Joko.

Yang Joko tidak tahu adalah satu menit setelah mereka selesai ngobrol dengan Joko, mereka semua menghapus aplikasinya. Mereka mengunduh aplikasi karena tak enak dengan Joko. Tak ada yang menginginkan produk tersebut.

Aplikasi yang bagus dan sukses di luar sana ternyata tidak otomatis akan bagus dan sukses di Indonesia.

Ketika Joko mulai menyadari realita pahit ini, dia mulai mengontak Bambang kembali untuk berdiskusi tentang revisi produk. Bambang yang sudah jenuh dengan perilaku Joko selama tiga bulan pembuatan produk, ternyata sudah melamar kerja di tempat lain. Bambang diterima kerja di Microsoft Indonesia.

Joko marah dan kecewa dengan Bambang. Dia menyalahkan Bambang atas kegagalan produknya. Joko berkata bahwa Bambang gagal membangun fitur-fitur produk secara optimal, masih penuh dengan bug, dan ini menyebabkan user menghapus aplikasinya.

Bambang cuma mengatakan satu kalimat yang tidak akan pernah terlupakan oleh Joko:

“Jok, gue rasa lo bukan founder startup deh. Lo cuma wannabe founder.”

Joko termenung, sambil menyeruput segelas kopi Starbucks yang dia beli.

Pahit rasanya.

Sumber: Techinasia Indonesia




24 November 2017 | 03:11:04 Komentari

 

0 Komentar



Berikan komentar

Silahkan login untuk berkomentar.